Asal Muasal Ketupat, Makanan Favorit Saat Lebaran

Serambi Nusantara – Siapa sih yang tidak kenal dengan ketupat ?. Makanan khas lebaran yang berbahan dasar beras dan dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda atau janur. Makanan ini selalu menjadi menu favorit sebagian besar masyarakat di Indonesia. Tapi pastinya jarang yang tahu asal muasal ketupat.

Nah, mari kita ulas. Menurut buku Makna Ketupat dalam Upacara Telung Bulan di Denpasar karya Ni Made Yuliani dan I Ketut Wardana Yasa (2020), ketupat telah mulai dikenal masyarakat sejak jaman Hindu-Budha. Penyebutan Ketupat atau kupat, akupat dan khupat-kupatan ini tertulis dalam Kakawin Kresnayana.  Ketupat ini merupakan bentuk dari pemujaan terhadap Dewi Sri. Perlu di ketahui Dewi Sri adalah dewi tertinggi dan terpenting bagi masyarakat agraris atau pertanian di Nusantara.

Namun, seiring berjalannya waktu. Ketika sosok Dewi Sri ini sudah tidak lagi dipuja sebagai dewi kesuburan dan pertanian. Masyarakat mulai menjadikan Dewi Sri ini  hanya sebagai lambang kesuburan yang dipresentasikan dalam bentuk ketupat. Sebagai merupakan perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kemudian di era Kerajaan Demak, ketupat ini memiliki definisi arti dalam bahasa Jawa, yang berarti ngaku lepat atau dalam bahasa Indonesia berarti ‘mengakui kesalahan’. Dalam ritual Jawa ada papat atau empat perilaku yang dilambangkan dengan empat sisi dari kupat, yaitu lebaran yang berarti pintu maaf dan luberan (berlimpah), leburan (saling memaafkan), dan laburan (dari kata Labur; putih, yang berarti ‘bersih dari dosa-dosa’).

Seperti yang di lansir oleh laman Wikipedia.com. Ketupat atau kupat merupakan simbol dari perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Kesultanan Demak pimpinan Raden Fatah awal abad ke 15. Bentuk makanan khas nusantara yang berbentuk persegi empat ini memiliki arti yaitu “kiblat papat lima pancer,” sebagai keseimbangan alam yakni empat arah mata angin yang bertumpu pada satu pusat.

Makanan yang oleh masyarakat Jawa di sebut Kupat ini pertama kali diperkenalkan secara luas kepada masyarakat Jawa, oleh sunan kalijaga. Ketupat ini merupakan hasil perpaduan makanan tradisional Tepo yang dibalut anyaman yang bisa kita dapatkan di daerah Wengker sekitar Gunung Lawu. Sunan Kalijaga menjadikan makanan ini sebagai budaya dan filosofi Jawa.

Makanan khas Nusantara ini pada umumnya disajikan pada saat Lebaran, Kupatan dan lain lain. Dalam perkembangannya, makanan ini menyebar ke berbagai wilayah di Nusantara sebagai hidangan utama saat lebaran karena pengaruh Wali Songo dan murid-muridnya, seperti Malaysia yang dibawa prajurit Kesultanan Demak yang kemudian menetap di Semenanjung Melayu.

Dalam perkembangannya makanan yang di Indonesia dikenal dengan ketupat ini menyebar ke negara lain. Perlu di ketahui juga jika jenis makanan ini juga telah menyebar ke Brunei, Malaysia, Singapura, dan Thailand selatan. Bahkan Di Filipina  ada makanan yang mirip dengan ketupat dikenal sebagai Bugnoy. Makanan khas Filipina ini  tapi perbedaannya terletak pada pola anyaman yang berbeda.(GP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *